Potensi dan Persebaran Sumber Daya Mineral


Potensi dan Persebaran Sumber Daya Mineral - Sumber daya mineral atau bahan galian adalah sumber daya yang telah disediakan oleh kulit bumi sebagai bagian dari mineral batuan dalam jumlah tertentu. Sumber daya ini jika diolah akan menghasilkan logam dan berbagai bahan keperluan proses industri untuk menunjang kehidupan manusia.

Sumber daya mineral yang tergolong tidak dapat diperbarui di antaranya logam mulia (emas, perak, platina), bukan logam mulia (tembaga, timbal, seng, timah, besi, mangaan, nikel), dan bahan galian industri (fosfat, asbes, belerang, gamping, pasir kuarsa, oker, lempung, mangaan, diatomae, gips, dan anhidrid).

Menurut UU No. 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan Pokok Pertambangan yang dikenal dengan Undang-Undang Pokok Pertambangan (UUPP), disebutkan bahwa bahan galian adalah unsur kimia, mineral, bijih, dan segala macam batuan, termasuk batuan mulia dan endapan alam.

Berdasarkan ketentuan pasal 14 UUPP, usaha pertambangan bahan galian terdiri atas beberapa tahapan, yaitu sebagai berikut.
1) Tahap Pertama
Penyelidikan umum, yaitu penyelidikan secara geologi atau geofisika di daratan, perairan, dan udara, dengan maksud untuk membuat peta geologi umum atau menetapkan tanda-tanda ditemukannya bahan galian.
2) Tahap Kedua
Eksplorasi, yaitu segala penyelidikan geologi pertambangan untuk menetapkan lebih teliti adanya suatu bahan galian dan sifat dari bahan galian.
3) Tahap Ketiga
Eksploitasi, yaitu usaha pertambangan dengan maksud menghasilkan bahan galian dan manfaatnya bagi kehidupan manusia.
4) Tahap Keempat
Pengolahan dan pemurnian, yaitu pengerjaan untuk mem pertinggi mutu bahan galian dan upaya memanfaatkan dan mendapatkan unsurunsur yang terdapat pada bahan galian tersebut.
5) Tahap Kelima
Pengangkutan, yaitu segala usaha pemindahan bahan galian dari hasil pengolahan serta pemurnian bahan galian dari daerah eksplorasi atau tempat pemurnian.
6) Tahap Keenam
Penjualan, yaitu segala penjualan bahan galian dari hasil pengolahan atau pemurnian bahan galian.

Berdasarkan Peraturan Pemerintahan (PP) No. 27 Tahun 1980 tentang Penggolongan Bahan-Bahan Galian, disebutkan bahwa bahan-bahan galian terbagi atas tiga golongan, yaitu golongan bahan galian strategis, golongan bahan galian vital, dan golongan bahan galian lainnya.
1) Golongan bahan galian stategis juga dikenal dengan sebutan bahan galian golongan A, jenisnya antara lain batubara, minyak bumi, gas alam, uranium, nikel, dan timah.
2) Golongan bahan galian vital juga dikenal dengan sebutan bahan galian golongan B, jenisnya antara lain besi, mangaan, bauksit, tembaga, timbal, seng, emas, perak, intan, platina, yodium, dan belerang.
3) Golongan bahan galian lainnya dikenal dengan sebutan bahan galian golongan C, jenisnya antara lain fosfat, asbes, mika, tawas, okek, batu permata, pasir kuarsa, kaolin, feldspar, gips, batu apung, marmer, batu tulis, batu kapur, granit, tanah liat, dan pasir.

Van Bemmelen (1949) membagi bahan galian ke dalam tiga golongan, yaitu sebagai berikut.
1) Golongan pertama, yaitu mineral organik yang terdiri atas minyak bumi, gas alam, batubara, dan aspal.
2) Golongan kedua, yaitu bijih logam yang terdiri atas timah, emas, perak, bauksit, nikel, mangaan, tembaga, seng, dan platina.
3) Golongan ketiga, yaitu mineral anorganik bukan bijih logam, seperti fospat, belerang (sulfur), yodium, gamping, dan air raksa.

Berikut akan dijelaskan beberapa bahan galian yang cukup penting dan sudah diusahakan, di antaranya sebagai berikut.

1) Bijih Timah
Daerah penghasil timah terdapat di daerah Riau (Pulau Lingga, Singkep, Karimun, Kundur, dan Bangkinang), Pulau Bangka, dan Pulau Belitung. Pengeksploitasian timah di Indonesia seluruhnya dilakukan oleh PT Timah Tbk. yang berpusat di Pangkal Pinang (Pulau Bangka). PT Timah Tbk dalam kegiatan operasionalnya dibantu oleh PT Tambang Timah dan PT Koba Tin (keduanya anak perusahaan PT Timah Tbk.).

Hasil eksploitasi timah berupa bijih timah, kemudian diolah oleh pabrik peleburan timah sehingga menjadi timah batangan atau logam timah. Pusat peleburan timah di Indonesia terdapat di Muntok (Pulau Bangka).

Pemanfaatan timah di dalam negeri antara lain digunakan untuk pembuatan kaleng, pipa saluran, pembungkus rokok, mata peluru, dan solder.

Cadangan timah terdapat dalam urat-urat kuarsa dalam batuan granit dan skis, juga dalam endapan atau lapisan aluvial dan eluvial. Cadangan timah di Indonesia diperkirakan terdapat sekitar satu juta ton, jumlah ini mungkin bertambah jika telah dilakukan inventarisasi sumber daya yang lebih saksama.

2) Nikel
Nikel kali pertama ditemukan di daerah Pomala (Sulawesi Tenggara) yaitu sekitar 1909. Deposit tersebut mulai dieksplorasi pada 1934 dan mulai berproduksi pada 1938. Cadangan nikel di Pomala sangat kecil sehingga hanya dapat memenuhi kebu tuhan sampai 1962.

Bekas kegiatan penambangan nikel di daerah Pomala sekarang dijadikan pusat pengolahan bijih nikel oleh PT Aneka Tambang (PT Antam). Pada 1979 PT Antam melakukan penambangan nikel di Pulau Gebe (Maluku Utara). Daerah lain yang sedang dikembangkan untuk proyek penambangan nikel, yaitu Pulau Gee, Pulau Pakal, Tanjung Buli, Pulau Obi (Maluku Utara), serta Pulau Gag dan Pegunungan Cyclops (Papua).

Hasil penambangan nikel adalah bijih nikel, nikel matte, (bijih nikel yang sudah dipisahkan dengan bahan buangannya), dan ferronikel (campuran yang mengandung nikel 78% dan besi 0,7%).

Potensi dan Persebaran Sumber Daya Mineral


Daerah deposit nikel di Indonesia adalah Sulawesi Selatan (Soroako), Sulawesi Tenggara (Kolaka), wilayah perbatasan Sulawesi (Selatan, Tengah, dan Tenggara), dan Papua. Deposit nikel terdapat pada silikat nikel dalam tanah laterit, pada batuan basa yang memiliki ciri berat jenis tinggi, berwarna gelap atau hijau-hijau gelap, serta kaya kandungan besi dan magnesium.

3) Bauksit (Bijih Aluminium)
Bauksit merupakan kelompok mineral aluminium hidroksida. Memiliki warna putih atau kekuningan (keadaan murni), dan merah atau cokelat jika tercampur (terkontaminasi) oleh besioksida atau bitumen. Bauksit relative sangat lunak (kekerasan 1–3), mudah larut dalam air, mudah patah, dan tidak mudah terbakar. Bauksit terjadi dari proses pelapukan (laterisasi) batuan induk yang erat kaitannya dengan persebaran batuan granit.

Bauksit dapat dijumpai di daerah-daerah aliran sungai, seperti di kepulauan Riau (pulau Bintan-Indonesia). Aluminium banyak diperguna kan untuk membuat perkakas dapur, industri mesin, dan industry pesawat terbang. Proses peleburan bauksit biasanya memerlukan tenaga listrik yang besar sehingga pada umumnya industri aluminium ditempatkan di daerah penghasil listrik, di antaranya di sekitar air terjun.

Pengelolaan tambang bauksit dilakukan oleh PT Antam dengan pusat pengolahannya di Kijang (Pulau Bintan, Riau) dengan luas area 8.002,4 ha. Pada 1997 mulai diproduksi bauksit dari dua area, yaitu dari Pulau Pari dan Galang (Kepulauan Riau) sebesar 808.749 metrik ton. Produksi bauksit pada 1998 mencapai 850.000 metrik ton.

4) Emas dan perak
Emas dan perak banyak dipergunakan untuk membuat barangperhiasan dan obat-obatan. Pada umumnya, emas digunakan sebagai alat pembayaran. Pada abad ke-16 dan-17 manusia banyak yang berlomba mencari emas ke berbagai daerah atau negara yang dianggap sebagai negara emas, terutama orang-orang Spanyol.

Negara yang banyak kandungan emasnya di antaranya Afrika Selatan (merupakan daerah terpenting penggalian emas di seluruh dunia, yang berpusat di kota Johannesburg), Rusia, Amerika Serikat (bagian barat Amerika Serikat, Alaska, Kanada), dan Australia.

Cadangan perak jumlahnya jauh lebih banyak daripada emas sehingga harganya jauh lebih murah. Negara yang paling banyak kandungan peraknya adalah Meksiko. Logam emas dan perak sering terdapat bersamaan dan berasosiasi dengan logam-logam tembaga, besi, seng, dan logam platina. Logam emas paling mudah dikenali karena warnanya kuning, lunak, dapat ditempa, tahan terhadap asam, dan tidak mudah teroksidasi.

Emas banyak ditemukan di urat-urat batuan atau gang di dalam batuan. Proses pengikisan pada saat erosi dapat menyebabkan kikisan emas yang akan terakumulasi di daerah endapan sekitar muara sungai. Oleh karena itu, terdapat beberapa pasir endapan yang bercampur emas. Dapat juga batuan yang bercampur emas kemudian mengendap ke tempat lain sehingga terjadi lapisan emas baru.


Potensi tambang emas di Indonesia terdapat di wilayah Sumatra Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara, dan Maluku (Pulau Halmahera dan Pulau Obi). Pengusahaan tambang emas di Indonesia sudah dilakukan sejak lama, seperti yang dilakukan di Rejang Lebong (Bengkulu), Cikotok (Jawa Barat), Bolaang Mongondow (Sulawesi Utara), dan Sambas (Kalimantan Barat). Eksploitasi tambang emas di Indonesia dilakukan oleh PT Antam, di antaranya di Jawa Barat dan Kalimantan Selatan. Adapun di Nanggroe Aceh Darussalam, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah dilakukan oleh pihak perusahaan swasta.

Produksi emas Indonesia pada 1995/1996 sebesar 65.864,5 kg dan perak sebesar 163.119,6 kg. Penjualan emas dalam negeri sebesar 3.747,2 kg dan perak sebesar 57.258,7 kg, sedangkan nilai ekspor emas sebesar 60.022,8 kg.

5) Tembaga
Tembaga merupakan kelompok logam bukan besi yang telah dipergunakan sejak 3.500 SM oleh orang-orang Mesir. Tembaga dipadu dengan besi menjadi perunggu, sedangkan jika tembaga dipadu dengan seng menjadi kuningan.

Tambang tembaga di Indonesia terdapat di Kalimantan, Pulau Sram, Papua, dan Maluku. Jumlah cadangan diperkirakan ada 170 juta ton dengan kadar tembaga 1%. Di Papua terdapat cadangan tembaga sebanyak 33 juta ton dengan kadar tembaga 2,5% dan besi 40,6%. Potensi tembaga terbesar di Indonesia berada di Tembagapura (Papua), yang pengelolaannya bekerja sama dengan PT Freeport Indonesia Company (Amerika Serikat) sejak 3 Maret 1973.

Sumber Daya Mineral


6) Intan
Intan sering dijumpai di dalam batuan vulkanik karena terbentuk bersamaan dengan pembentukan batuan ultrabasik, misalnya dunite, peridotite, dan Piroxenite. Kristalisasi intan terbentuk akibat pembekuan magma di bagian dalam (batu-batu intrusif ), yaitu batu magma yang terbentuk selama proses pembekuan magma jauh di dalam lapisan kerak bumi.

Intan merupakan batuan yang memiliki kekerasan paling tinggi, sehingga sekeras apapun benda jika digores dengan intan akan tergores. Intan merupakan satu-satunya batu permata yang memiliki formula satu unsur, yaitu karbon (C).

Intan akan muncul ke permukaan bumi karena adanya gerakan kulit bumi sehingga muncul ke permukaan atau akibat erosi yang terus menerus sehingga tersingkap ke permukaan. Penambangan intan dapat dilakukan dengan cara memisahkan batuan dengan unsur intan, atau dilakukan di antara batu dan pasir yang mengendap di sungai, seperti di Martapura. Tempat penemuan intan di Indonesia antara lain di Sumatra Barat dan Riau (Sungai Siabu, Kampar, dan Bangkinang), Kalimantan Barat (Muara Mengkiang dan Ngabang), Kalimantan Tengah (Sungai Gula, Pucukcau, Murungraya, Sei Pinang), Kalimantan Selatan (Martapura dan Simpang Empat), dan Kalimantan Timur (Sekatak Bunyi, Kabupaten Kutai, dan Longiran).




Sekian materi mengenai Potensi dan Persebaran Sumber Daya Mineral dari Geografisku, semoga bermanfaat.

0 Response to "Potensi dan Persebaran Sumber Daya Mineral"

Poskan Komentar